Pages

Sabtu, 15 Juni 2013

Struk Pembayaran?

Tadi siang, gue iseng mengobrak-abrik isi terdalam dari lemari gue. Dan tidak disangka-sangka gue menemukan begitu banyak 'Struk Pembayaran' yang gue simpan dari tahun 2011 lalu. Gue bukan orang yang terlalu demen belanja ini itu, sebelum tahun-tahun gue jadi mahasisiwi. Karena dulu, apa-apa bakal beli bareng Mama, dan beliaulah yang punya urusan sama struk pembayaran tersebut. 
Now, gue ngerasa dari struk pembayaran itu gue bisa mengulang memori-memori yang pernah gue alami sama orang-orang terdekat gue, sama orang yang deket sama gue
dulu (cuma deket), tiket pesawat dan moment-moment paling boros seumur hidup gue, sama temen-temen gila gue, dan..sama yang lain-lain deh. Jujur, gue seneng. Ternyata, gue berani tampil beda. WKWKWK!! Why i told you so?. Karena kebanyakan orang menyimpan memori mereka tentang moment-moment cakep itu lewat foto atau tulisan. Nah, gue aneh. Gue masih ingat apa, dimana, sama siapa, dan kapan (tanggal di struk pembayaran itu sangat membantu) gue dapet struk pembayaran itu. Dan gue gak nyangka, semua buku, novel, ataupun komik yang pernah gue beli, struk pembayarannya masih ada.
Ada juga tiket Busway yang pertama kali gue naikin pas nyerempet di Jakarta (tahun 2009 loh), kantong plastik warna-warni ketika beli 'buah tangan' buat orang rumah, tiket Boardingpass, ah banyak deh. Belum lagi moment gue bawa adik-adik gue naik kereta api lokal dari Binjai-Medan untuk pertama kalinya. Saat pertama kali gue merasa dipermalukan oleh adik-adik gue, karena mereka terlalu extreme menjadi seorang yang sangat riang hari itu. Mereka teriak-teriak, Tarzan aja kalah. Sebagai kakak, gue gagal ikutan absurd seperti mereka. Maaf, dek.
Ada juga tiket pesawat ketika pulang dari Padang-Medan. Liburan kesana, beneran tidak begitu direncanakan. Tanpa gagasan lebih, tanpa orang tua, hanya sekumpulan saudara sepupuan yang ingin mengeksplor hobi terpendam mereka, jalan-jalan dan mengetahui apa yang tidak tahu. Well, sebenernya niat gue paling awal disini adalah untuk jadi seorang Kiky yang hemat, dan ternyata disinilah awal gue merasa jadi orang boros, demi mendapatkan yang instan. Pulang ke kampung halaman dalam waktu 1,5 jam, misalnya. 16 titik tempat yang harus dikunjungi disekitar Padang-Bukittinggi yang gue catat di note kecil gue, ternyata hanya 3 tempat yang bisa gue kunjungi. Sob, gue punya alasan. Dan itu real adanya. 
Gue selalu hidup ga jauh dari temen-temen gue. Hobi kami sama. Mau tau? Hobi kami ga jauh-jauh dari 'sebuah ruangan yang kedap suara, dimana lo bisa mengekspresikan segala yang lo suka dan ditumpahkan dalam satu teriakan dan suara yang nyaring (dan kadang bagus,kadang)'. Oke, untuk seorang mahasiswi seperti gue, gue merasa gagal punya hobi yang ga seharusnya gue punya. Mahasiswi lain, hobinya BBM-an, pacaran, selingkuhan, tekong-tekongan pacar teman, ada juga yang rajin mengaji, cabutin rambut ketiak dosen, dan lain-lain. Tapi itu udah terlalu mainstream. Dan beralihlah kami kepada hobi itu, dan membuatnya menjadi semi-kebiasaan-ketika-bosan-melanda. Dan struk pembayarannyapun masih gue simpen. Sampe freepass yang ga terpakai juga masih gue simpen. Kadang temen gue bingung, entah demi apa seorang Kiky menyimpan semua struk pembayaran. Gue suka itu, Sob! :)
Akhir dari cerita ini adalah : 'Sob, orang diluar sana punya beribu macam cara untuk mengikat semua kenangan manisnya bersama orang-orang terdekatnya. Ini cara gue, gimana cara lo, Sob?'

Tidak ada komentar: