Pages

Selasa, 29 Januari 2013

Hujan.

Langit tampak kelabu sejak siang tadi, aku fikir akan hujan, dan ya tepat pukul 16.00 kota Medan ku diguyur air langit. Ah! Bagaimana aku pulang ke rumah tanpa basah kuyup, tanpa mantel, tanpa payung, ataupun jaket yang bisa ku gunakan untuk berlindung dari rintikan-rintikan hujan ini?
Aku pun berlari ke warung di dekat halte tempat aku menunggu bis yang akan membawaku pulang kerumah, tapi ah..lama sekali. Aku memang suka pergi ke tempat ini. Aku memang tidak begitu suka tempat yang ramai belakangan ini. Aku lebih suka duduk sendiri di tempat bermain yang ada di Lapangan Merdeka, berpangku tangan dan melihat langit, sangat indah kurasa. Ditambah lagi, aku bisa berpikir jernih dan merangkai skema-skema tentang apa-apa saja yang harus ku lakukan di kemudian hari, tapi sial...imajinasiku buyar ketika aku mulai melihat gumpalan langit hitam tepat di atas kepalaku. Aku harus segera pulang, tapi aku masih ingin disini. Itulah yang menyebabkan mengapa aku terjebak oleh tentara air langit yang sejatinya telah mengingatkan aku untuk kembali kerumah sejak tadi, tapi aku mengabaikannya.


Bis itu pun datang, dan berhenti tepat di depan halte. Bahagianya. Aku pun bergegas masuk ke dalam, karena aku paling sensitif dengan air hujan, bisa-bisa aku tidak bisa kesini lagi esok hari, karena sakit. Aku mengambil tempat duduk tepat disamping jendela. Ku lihat air hujan beramai-ramai menerpa kaca bis ini, ditambah lagi suara hujan yang berirama dan beriringan dengan bunyi guntur. Hei, apakah mereka sedang berdebat tentang sesuatu? Ku rasa tidak. 


Aku lihat beberapa orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Ah hujan, please, besok temani aku saat malam hari saja ya? Aku bersuara lirih mengatakan itu, agar orang didekatku tidak menganggapku cukup gila untuk duduk disampingnya dan didalam bis pula. Dan suara guntur lagi-lagi datang, seakan-akan dia meng-iya-kan permintaanku tadi. Aku pun tersenyum simpul, dan berkata 'Terima kasih'.

Aku masih di dalam bis, masih memandangi hujan. Entah kenapa, sejak ada seseorang yang meyakinkan aku tentang betapa indahnya langit biru itu, aku menjadi tertarik untuk membuktikannya. Dan ya, langit memang indah. Hujan juga indah. 

Kadang aku marah ketika beberapa orang diluar sana mengartikan hujan adalah simbol kesedihan, simbol untuk berduka, atau tanda untuk menjadi orang yang semakin terpuruk karena sesuatu. Ya benar, tapi itu terkadang. Tidak, jika kita mengingat kejadian di Ibukota beberapa hari lalu. Ah, itu. Aku tidak ingin berkomentar tentang hal itu.

Kadang aku juga ingin bersahabat dengan hujan, jika saja kulit ku tidak terlalu sensitif oleh sentuhannya.
Pikirkan saja, ketika kau bahagia, air hujan seakan ikut bernyanyi bahagia. Dia tidak bisa menimbulkan bunyinya sendiri, karena hujan pun bersahabat dengan genting rumah kita dan gedung-gedung itu. Mereka pun menimbulkan bunyi-bunyian yang menenangkan jiwa setiap insan. Kita bisa saja terlelap tidur, karena tidak sadar betapa tenangnya hati kita dibuatnya. 
Ketika kau marah, air hujan mencoba menenangkanmu dengan sejuknya air yang mengenai tubuhmu, dan ya seandainya saja tubuhku tidak terlalu sensitif untuk hal ini.
Ketika kau menangis, air hujan menangis bersamamu, dia tak akan membiarkanmu menangis seorang diri, bahkan ia lebih sedih. Lihat saja air matanya sampai menggenangi parit di belakang rumahku. 
Air hujan juga menjanjikanku, bahwa akan ada simpul warna-warni yang akan dihadiahkannya untukku apabila aku sedang bersedih hari ini, karena dia menggangguku untuk melanjutkan imajinasiku tentang masa depan yang akan ku hadapi nanti. Dia menghadiahkanku pelangi berwarna warni. Aku pun tak takut untuk bersedih lagi. Dia selalu menemaniku. Aku tak yakin di luar sana apakah ada orang yang ingin bersahabat dengan hujan, seperti aku misalnya?. Aku pun menanti sosok makhluk Tuhan yang bisa menjadi Hujan-ku ketika Sang Pencipta tidak menurunkan hujan untuk menemaniku. Yang ku tau, hujan selalu ada, terkadang ia bersembunyi menungggu watu yang tepat untuk menampakkan diri. Aku tunggu. Selalu ku tunggu. :)

2 komentar:

Miss Azizah Nur Fitriana mengatakan...

ceritanya cukup menarik, masih ada kesalahan EyD dan si aku-nya itu sedikit bingung- sebenrnya suka sedih atau gembira .
:D

Rizky mengatakan...

oooh iya pit, ini emang masih langsung aja gitu apa yg di pikiran ky buat..
gimana bagusnya pit? dikoreksi ya pit? yg mana2 aja eyd-nya yg kurang.
hahaha tipe2 kayak buat tajuk rencana pit, ga memihak si Sedih atau si Gembira sebenernya.. :D