Gue bukan orang yang puitis. Maka dari itu lo yang baca cerita gue gak bakal merasa terharu ataupun mesti lari ke warung buat beli tisu. Bukan.
Gue juga bukan orang yang pandai merangkai kata-kata lelucon, yang akhirnya membuat lo tertawa terpingkal-pingkal karena celotehan gue di blog ini. Bukan.
Gue cuma orang biasa, yang selalu hidup dengan mencoba membuat titik balance antara keduanya. Oke, ini adalah pembuka yang paling absurd dari yang pernah gue buat.
*scroll down*
Emang ini postingan yang keberapa, Ky?
Yang....pertama.
-_-)v
Gue mau bahas tentang betapa cinta bisa membuat orang menjadi semunafik gue. Gue minta maaf. Gue gak seharusnya cerita ini, tapi gue cuma bermaksud apa yang terjadi di dalam hidup gue dan (mungkin) terjadi juga di hidup kalian bakal gak terjadi lagi di kehidupan orang lain.
Sumber : Google.com
Gue masih sayang, masih cinta orang yang sama sejak tahun 2010. Untuk beberapa bulan dia sepenuhnya milik gue, dan memang hanya milik gue, dan begitupun dengan dia. Kita pisah karena keegoisan gue karena ga suka sama salah satu sifat dia, gak seharusnya gue umbar disini. Dan kita berdua terlalu melibatkan orang luar untuk membantu atau (in this case) mencampuri masalah pribadi kita berdua. Gue masih sayang sama dia yang gue kenal pemalu, rapi, suka becandaan walopun kadang garing...dari dulu.
Gue gak peduli seberapa banyak orang yang berusaha buat gue beneran move on dari dia sejak bertahun-tahun lalu. Gue bohongin perasaan gue dengan bilang ke temen-temen gue, kalo gue berhasil melupakan dia sampai ke akar-akarnya. Yeah indeed, but it's just for a moment. Gue berhasil memamerkan temen-temen cowo gue yang gue suruh jadi pacar bo'ongan gue di Facebook dan ber-free-acting di Twitter. Hanya untuk menunjukkan bahwa gue bisa lupa dari dia, gue mampu. Tapi, sebenarnya gue enggak.
Untuk beberapa moment, gue berhasil buat dia sadar kalau dia udah gak dibutuhkan lagi disini *nunjuk hati*.
Tapi, ternyata gue menyiksa hati gue sendiri. Gue berpura-pura bahagia diatas kepedihan hati gue sendiri, kali kali aja dia minta balik kayak dulu, dan ternyata nihil.
Dan ternyata cinta gue ke dia ga ubah seperti gue mencintai wangi parfum gue sendiri. Kalau udah beneran nyaman sama satu bau, bakal susah move on buat pilih parfum yang berbau lain lagi, itu terbukti.
Untuk Anda yang diluar sana, yang mungkin saja lagi membaca ini. Aku ga tau apa maksud dari semua tweet yang Anda kicaukan tentang gimana 'Kita' di bulan November 2012 kemarin. Yang jelas, gue masih merasa masih berat buat memindahkan dan mengeluarkan Anda dari dalam sini *nunjuk ginjal* maksudku dari dalam sini *nunjuk hati*.
![]() |
| Sumber: Google.com |
You know what's the point, right? I hate to do this, but I must.
Setidaknya, kalau emang mau numpang lewat di kehidupan gue lagi, silahkan.....pikir ulang.
Apa ga nyadar udah buat gue sakit? :')
Oke, gue ngerti lo orangnya ga pedulian, just...like me.
Tapi, didalam hidup selalu ada pengecualian, di bahasa Jerman aja ada kok woooh, masa' elu engga.
Gue mulai ngaco', ah you know what I mean. Kalau gak bereaksi di elu sendiri, maka gue pun menyimpulkan bahwa,
"Flashback doesn't mean anything!"
Hhaha sedikit ingin membela diri nih, Sob. Mungkin gue tidak semunafik seperti ya apa yang dibilang, padahal hati bilang tidak...karena itu terlalu mainstream #plak
Gue cuma mengindahkan kepercayaan temen-temen gue dengan tidak memikirkan beliau lagi, tapi cara gue salah. Dan akhirnya, sebelum cerita ini gue post, gue sms temen gue kalo gue emang belum bisa move on dari bocah itu. Temen gue bilang:
"Tuhan punya jalan-Nya sendiri mengenai hati seorang hamba-Nya ky. Doa aja.
Kalau dia emang yang terbaik, mungkin kau harus menunggu lebih dari ini lagi, tapi bakal indah pada waktu-Nya.
Allah yang menciptakan cinta.
Kalau cinta itu sudah harus berganti, Dia akan nunjukin jalan, indah, pastinya."
![]() |
| Sumber: Google.com |
Ciao ;)
Sorry, sorry banget gue udah ga senonoh curhat. Gue cuma belum nemuin apa yang bakal seru buat diceritakan. Sorry~



Tidak ada komentar:
Posting Komentar